Ada satu pola yang selalu saya perhatikan setiap awal tahun.
Orang mulai menulis resolusi.
Gym penuh.
Notebook baru dibuka.
Semua orang bicara tentang “tahun ini harus berubah.”
Tapi anehnya… kalau kita lihat lagi dua atau tiga bulan kemudian, hampir semuanya kembali seperti semula.
Target hilang.
Resolusi dilupakan.
Rutinitas lama kembali.
Dan kalau jujur… saya sendiri juga pernah mengalami itu berkali-kali.
Bukan karena niatnya tidak serius.
Biasanya justru karena kita terlalu berharap perubahan besar bisa terjadi hanya dengan niat.
Seolah-olah hidup bisa berubah hanya karena kita berkata pada diri sendiri,
“Tahun ini saya mau lebih disiplin.”
“Tahun ini saya mau lebih sehat.”
“Tahun ini saya mau lebih fokus.”
Masalahnya… hidup tidak berubah hanya karena kita berharap.
Hidup berubah karena sistem.
Beberapa waktu lalu saya menemukan cara berpikir yang menurut saya sangat menarik tentang hal ini.
Saya menemukannya dari sebuah buku berjudul Your Best Year Ever karya Michael Hyatt.
Ide utamanya sederhana tapi dalam.
Kalau kita ingin benar-benar mengalami tahun terbaik dalam hidup…
kita tidak bisa hanya fokus pada satu area kehidupan.
Kita harus melihat hidup secara utuh.
Dan ketika saya memikirkan ide ini, saya langsung merasa…
ini sangat relevan dengan kehidupan kita sebagai PARENT.
Karena banyak orang mencoba memperbaiki hidupnya…
tapi hanya dari satu sisi saja.
Ada yang fokus hanya pada karier.
Ada yang fokus hanya pada kesehatan.
Ada yang fokus hanya pada uang.
Padahal hidup sebenarnya jauh lebih kompleks dari itu.
Michael Hyatt menjelaskan bahwa hidup kita sebenarnya terdiri dari sepuluh area utama yang semuanya saling terhubung.
- Mental health.
- Physical health.
- Spiritual life.
- Intellectual growth.
- Marriage atau relationship.
- Parenting.
- Friendships.
- Career atau pekerjaan.
- Hobbies.
- Dan personal finance.
Sepuluh area ini seperti sepuluh roda dalam kehidupan kita.
Kalau satu roda rusak… perjalanan tetap bisa berjalan.
Tapi tidak akan mulus.
Dan kalau dua atau tiga roda bermasalah… hidup mulai terasa berat.
Saya sering melihat ini dalam kehidupan nyata.
Ada orang yang kariernya luar biasa.
Income tinggi.
Bisnis berkembang.
Tapi rumah tangganya berantakan.
Ada juga yang sangat fokus pada keluarga…
tapi keuangan selalu kacau.
Ada yang sangat sukses secara profesional…
tapi secara mental lelah dan kosong.
Dan di titik tertentu saya menyadari sesuatu.
Kesuksesan yang tidak seimbang…
pada akhirnya tetap terasa seperti kegagalan.
Bagi saya pribadi sebagai seorang Daddy, ini sangat terasa.
Karena saya tidak hanya memikirkan satu dimensi kehidupan.
Saya memikirkan banyak hal sekaligus.
Bagaimana tetap hadir untuk anak.
Bagaimana tetap bertumbuh secara spiritual.
Bagaimana menjaga hubungan dengan pasangan.
Bagaimana membangun income tanpa kehilangan waktu keluarga.
Dan itulah mengapa ide melihat hidup sebagai sistem yang saling terhubung terasa sangat masuk akal.
Kalau kita memperbaiki satu area kehidupan…
biasanya area lain juga ikut membaik.
Misalnya kesehatan fisik.
Ketika seseorang mulai olahraga… energinya meningkat.
Ketika energi meningkat… fokus kerja juga meningkat.
Ketika fokus meningkat… produktivitas meningkat.
Dan ketika produktivitas meningkat… income juga bisa meningkat.
Semua area ini sebenarnya saling mempengaruhi.
Sebaliknya juga benar.
Kalau kesehatan kita buruk…
energi turun.
Energi turun…
emosi lebih mudah meledak.
Emosi meledak…
hubungan dengan pasangan terganggu.
Hubungan terganggu…
fokus kerja ikut terganggu.
Dan akhirnya seluruh hidup terasa berat.
Itulah sebabnya pendekatan yang lebih realistis bukan memperbaiki hidup secara ekstrem…
tetapi memperbaikinya secara holistic dan bertahap.
Hal lain yang sangat menarik dari buku ini adalah tentang mental block.
Seringkali yang menghalangi kita bukan kemampuan.
Tapi cerita yang kita percaya tentang diri kita sendiri.
Misalnya kalimat seperti ini.
“Saya bukan orang yang disiplin.”
“Saya tidak kreatif.”
“Saya tidak cocok bisnis.”
“Market sekarang sedang sulit.”
Kalimat-kalimat seperti ini sering terdengar rasional.
Padahal sebenarnya hanya asumsi.
Banyak batasan dalam hidup manusia sebenarnya bukan batasan nyata.
Hanya batasan yang dipercaya banyak orang.
Dulu manusia percaya bahwa mustahil pesawat terbang melampaui kecepatan suara.
Itu dianggap batas fisik.
Sampai akhirnya seorang pilot bernama Chuck Yeager membuktikan bahwa pesawat bisa menembus sound barrier.
Setelah itu…
banyak pesawat lain melakukan hal yang sama.
Hal yang sama terjadi di dunia olahraga.
Selama bertahun-tahun orang percaya bahwa lari satu mil di bawah empat menit itu mustahil.
Itu dianggap batas biologis manusia.
Sampai akhirnya seorang atlet bernama Roger Bannister berhasil melakukannya.
Tiga menit lima puluh sembilan detik.
Dan menariknya… setelah itu banyak atlet lain juga berhasil melakukannya.
Seolah-olah batas itu sebenarnya bukan batas tubuh.
Tapi batas pikiran.
Saya sering memikirkan ini dalam konteks kehidupan kita sebagai PARENT.
Kadang kita juga memiliki batasan mental seperti itu.
“Tidak mungkin punya bisnis sambil tetap dekat dengan anak.”
“Kalau mau sukses harus sibuk.”
“Kalau mau punya income besar harus kerja 12 jam sehari.”
Banyak orang percaya itu.
Tapi saya mulai melihat bahwa mungkin…
itu hanya cerita yang diwariskan dari generasi sebelumnya.
Dan mungkin saja… cerita itu bisa ditulis ulang.
Hal lain yang menurut saya sangat penting dari buku ini adalah cara melihat kegagalan.
Karena semakin kita bertambah usia… biasanya kita membawa semakin banyak kegagalan.
Dan kegagalan itu sering berubah menjadi keyakinan negatif.
Anak muda biasanya sangat optimis.
Mereka membuat banyak resolusi.
Tapi orang yang lebih tua sering lebih skeptis.
Karena mereka pernah mencoba… dan gagal.
Padahal kegagalan sebenarnya bisa menjadi data.
Bukan bukti bahwa kita tidak mampu.
Michael Hyatt pernah bercerita tentang salah satu kegagalan besar dalam hidupnya.
Dia pernah menghabiskan satu tahun penuh bekerja untuk satu klien besar.
Dia sangat fokus.
Semua energi dicurahkan ke sana.
Tapi di akhir tahun… klien itu tiba-tiba memilih bekerja dengan orang lain.
Bayangkan rasanya.
Satu tahun kerja keras…
hilang begitu saja.
Banyak orang mungkin akan menyerah.
Tapi dia memilih melihat kegagalan itu sebagai pelajaran.
Dia belajar satu hal penting.
Jangan pernah menggantungkan bisnis pada satu klien saja.
Diversifikasi.
Sebarkan risiko.
Dan dari situ bisnisnya justru menjadi lebih kuat.
Saya sendiri juga belajar banyak dari kegagalan.
Kadang keputusan bisnis yang salah.
Kadang strategi yang tidak berhasil.
Kadang proyek yang tidak berjalan sesuai harapan.
Tapi kalau kita mau jujur…
banyak pelajaran paling berharga dalam hidup justru datang dari kegagalan.
Bukan dari kemenangan.
Hal lain yang menurut saya sangat praktis dari buku ini adalah konsep discomfort zone.
Banyak orang menetapkan target yang terlalu ekstrem.
Misalnya seseorang ingin menulis buku…
lalu langsung menargetkan supaya Best Seller.
Target itu terlalu jauh.
Dan akhirnya malah membuat orang tidak mulai.
Di sisi lain… ada juga orang yang menetapkan target terlalu kecil.
Sehingga tidak ada tantangan.
Motivasi juga rendah.
Discomfort zone adalah titik di tengah.
Target yang menantang tapi masih realistis.
Misalnya seseorang ingin menulis buku.
Daripada berpikir tentang penghargaan besar…
lebih realistis menargetkan menyelesaikan draft pertama dalam tiga bulan.
Itu cukup menantang.
Tapi masih bisa dicapai.
Dan ketika target terasa masuk akal… kita lebih mudah bergerak.
Konsep ini sebenarnya sangat relevan dengan kehidupan Parentpreneur.
Karena kita tidak bisa menjalani hidup dengan ritme ekstrem.
Kita punya keluarga.
Punya anak.
Punya tanggung jawab lain.
Jadi sistem kerja harus realistis.
Bukan hustle tanpa henti.
Hal lain yang menurut saya sangat powerful adalah ide tentang small daily actions.
Kadang kita melihat tujuan besar… dan langsung merasa overwhelmed.
Misalnya membaca Alkitab satu tahun.
Atau menulis buku.
Atau membangun bisnis.
Semua terlihat sangat besar.
Tapi ketika tujuan besar dipecah menjadi aktivitas kecil harian… semuanya terasa jauh lebih mungkin.
Contohnya membaca kitab suci yang hampir satu juta kata.
Kalau dilihat sebagai satu proyek besar… terasa berat.
Tapi kalau dibaca 20 menit setiap pagi…
dalam satu tahun selesai.
Hal yang sama berlaku untuk hampir semua hal dalam hidup.
Banyak perubahan besar sebenarnya hanya hasil dari konsistensi kecil setiap hari.
Menariknya, manusia bisa menjadi “kecanduan” pada kebiasaan kecil.
Awalnya terasa sulit.
Tapi setelah dilakukan berulang-ulang… kebiasaan itu justru terasa menyenangkan.
Penelitian dari University College London menunjukkan bahwa rata-rata butuh sekitar 66 hari untuk sebuah kebiasaan menjadi otomatis.
Ada yang lebih cepat.
Ada yang lebih lama.
Tapi prinsipnya sama.
Konsistensi kecil lebih kuat daripada ledakan motivasi sesaat.
Dan ini juga sesuatu yang sangat saya rasakan.
Banyak hal dalam hidup berubah bukan karena keputusan besar…
tapi karena rutinitas kecil yang dilakukan setiap hari.
Menulis sedikit setiap hari.
Membaca sedikit setiap hari.
Berpikir sedikit setiap hari.
Pelan-pelan semua itu menumpuk.
Seperti compound effect.
Hal lain yang menurut saya sangat penting adalah alasan di balik tujuan.
Karena kita tidak akan bertahan lama melakukan sesuatu…
kalau kita tidak tahu kenapa kita melakukannya.
Misalnya seseorang ingin kurus.
Kalau alasannya hanya karena “harus”… biasanya tidak bertahan lama.
Tapi kalau alasannya lebih dalam…
Ingin hidup lebih lama untuk keluarga.
Ingin punya energi untuk bermain dengan anak.
Ingin menjadi versi diri yang lebih sehat.
Alasan seperti itu lebih kuat.
Michael Hyatt menyarankan untuk benar-benar menuliskan alasan kita melakukan sesuatu.
Dan mengingatnya terus.
Karena ketika godaan muncul… kita kembali pada alasan itu.
Saya sendiri sering memikirkan ini dalam konteks keluarga.
Banyak keputusan dalam hidup sebenarnya kembali ke satu pertanyaan sederhana.
Kenapa saya melakukan ini?
Apakah ini benar-benar penting?
Apakah ini membawa saya lebih dekat ke kehidupan yang saya inginkan?
Atau justru menjauh?
Dan terakhir… ada satu faktor yang sering diremehkan dalam mencapai tujuan.
Yaitu orang-orang di sekitar kita.
Tidak ada orang yang benar-benar berhasil sendirian.
Komunitas sangat berpengaruh.
Orang yang ingin menurunkan berat badan lebih berhasil ketika mereka bergabung dengan grup.
Orang yang ingin berhenti dari kecanduan lebih berhasil ketika mereka punya support group.
Karena dalam komunitas… ada empat hal yang sangat kuat.
Belajar dari orang lain.
Kompetisi sehat.
Accountability.
Dan saling menyemangati.
Saya semakin percaya bahwa perjalanan hidup yang baik bukan perjalanan sendirian.
Kita butuh orang yang berjalan bersama.
Mentor.
Teman diskusi.
Komunitas yang punya nilai yang sama.
Dan mungkin itulah salah satu alasan kenapa saya suka berbagi refleksi seperti ini.
Bukan karena saya sudah tahu semuanya.
Justru karena saya masih belajar.
Kalau saya merangkum semuanya…
Pelajaran paling penting dari buku ini bagi saya adalah satu hal sederhana.
Tahun yang baik tidak terjadi secara kebetulan.
Tahun yang baik dibangun dengan sadar.
Dengan melihat hidup secara utuh.
Dengan menantang batas pikiran sendiri.
Dengan belajar dari kegagalan.
Dengan menetapkan target yang realistis.
Dengan melakukan langkah kecil setiap hari.
Dan dengan berjalan bersama orang lain.
Saya sendiri juga masih belajar mempraktikkan semua ini.
Tidak selalu berhasil.
Kadang juga jatuh lagi ke pola lama.
Tapi mungkin perjalanan hidup memang seperti itu.
Bukan tentang menjadi sempurna.
Tapi tentang terus memperbaiki arah.
Sedikit demi sedikit.
Setiap hari.
Dan siapa tahu…
Kalau kita menjalani proses ini dengan sabar…
Mungkin suatu hari kita akan melihat ke belakang dan berkata,
“Ternyata tahun itu benar-benar menjadi salah satu tahun terbaik dalam hidup saya.”
Kami adalah suami-istri di balik Parentpreneur Indonesia membangun komunitas untuk PARENT upgrade mindset, income, parenting, AI & digital skills bersama bersama tanpa mengorbankan keluarga Di sini kita share cerita nyata, sistem yang kita pakai sendiri, dan pelajaran yang gagal maupun yang berhasil yang kita dapatkan di tengah perjalanan sebagai PARENTPRENEUR dengan dua anak kecil. Dengan satu tujuan kita: Build Family. Build Wealth. Build Legacy.
Lihat semua artikel oleh Parentpreneur.id →