Ada sebuah kesalahpahaman yang sangat umum di dunia bisnis.
Banyak orang berpikir… kalau sebuah bisnis ingin tumbuh, maka solusinya harus sesuatu yang besar.
Harus campaign besar.
Harus iklan mahal.
Harus strategi marketing yang kompleks.
Harus branding yang viral.
Seolah-olah revenue growth itu selalu datang dari sesuatu yang spektakuler.
Padahal kalau kita lihat lebih dalam… banyak bisnis justru tidak gagal karena kurang strategi besar.
Mereka gagal karena tidak melakukan hal kecil… secara konsisten.
Dan ini sesuatu yang baru benar-benar “klik” di kepala saya ketika saya menemukan sebuah buku berjudul The Revenue Growth Habit karya Alex Goldfayn.
Buku ini punya premis yang sangat sederhana.
Terlalu sederhana bahkan.
Dia mengatakan bahwa banyak bisnis sebenarnya bisa tumbuh sekitar 15% setiap tahun… hanya dengan kebiasaan kecil yang dilakukan sekitar 15 menit setiap hari.
Bukan 15 jam.
15 menit.
Awalnya saya juga skeptis.
Karena di dunia bisnis kita sering terbiasa berpikir bahwa growth harus datang dari strategi yang rumit.
Padahal setelah saya refleksikan… banyak insight dari buku ini justru terasa sangat masuk akal.
Dan bahkan… sangat relevan dengan kehidupan kita sebagai Parentpreneur.
Karena sebagai PARENT yang menjalankan bisnis… waktu kita tidak unlimited.
Kita tidak bisa kerja 14 jam sehari seperti hustle culture yang sering dipromosikan di internet.
Kita harus memikirkan leverage.
Bagaimana membuat bisnis bertumbuh… tanpa mengorbankan kehadiran kita di rumah.
Dan justru di situ ide dari buku ini terasa sangat powerful.
Salah satu ide yang menurut saya paling menarik dari buku ini adalah sesuatu yang sangat sederhana…
Sebagian besar bisnis terlalu sibuk “menunggu penjualan terjadi”.
Padahal mereka seharusnya “mengundang penjualan terjadi”.
Kelihatannya mirip.
Tapi sebenarnya sangat berbeda.
Banyak pemilik bisnis menjalankan hari mereka dengan pola seperti ini.
Mereka membuka laptop.
Mereka mengecek email.
Mereka membalas chat.
Mereka mengerjakan pekerjaan operasional.
Dan mereka berharap… kalau ada orang yang datang membeli.
Kalau ada lead masuk.
Kalau ada order baru.
Kalau ada peluang datang.
Tapi mereka sendiri… tidak benar-benar secara aktif menciptakan peluang itu.
Buku ini mengatakan sesuatu yang sangat sederhana.
Kalau kamu ingin revenue growth… kamu harus secara aktif menginisiasi percakapan bisnis.
Bukan menunggu.
Menginisiasi.
Dan sering kali… ini tidak butuh campaign marketing besar.
Kadang cukup satu email sederhana.
Kadang cukup satu pesan follow-up.
Kadang cukup satu percakapan kecil.
Saya pernah melihat ini terjadi dalam kehidupan nyata.
Banyak bisnis kehilangan penjualan bukan karena produk mereka jelek.
Tapi karena mereka tidak pernah follow up.
Bayangkan kamu pernah beli sesuatu dari sebuah brand.
Kamu puas.
Tapi setelah itu… tidak pernah ada komunikasi lagi.
Tidak ada check-in.
Tidak ada follow up.
Tidak ada tawaran lanjutan.
Akhirnya kamu lupa brand itu.
Bukan karena mereka buruk.
Tapi karena mereka tidak pernah hadir lagi dalam pikiranmu.
Alex Goldfayn menjelaskan bahwa banyak perusahaan memiliki database pelanggan yang sangat besar…
Tapi mereka hampir tidak pernah berbicara lagi dengan pelanggan tersebut.
Padahal pelanggan lama sering kali adalah sumber revenue yang paling mudah.
Karena trust sudah ada.
Relationship sudah ada.
Dan biaya untuk menjual lagi ke pelanggan lama… jauh lebih murah daripada mencari pelanggan baru.
Ini sesuatu yang menurut saya sangat relevan bagi banyak Parentpreneur yang menjalankan bisnis digital.
Kadang kita terlalu fokus mencari audience baru.
Padahal sebenarnya ada banyak peluang yang sudah ada di depan mata.
Orang yang pernah membeli dari kita.
Orang yang pernah tertarik.
Orang yang pernah bertanya.
Orang yang pernah engage.
Dan mereka hanya butuh satu hal sederhana.
Seseorang yang menghubungi mereka kembali.
Buku ini menyebut ini sebagai proactive communication.
Bukan komunikasi yang reaktif.
Tapi komunikasi yang sengaja dimulai.
Dan yang menarik… kebiasaan ini tidak perlu memakan waktu berjam-jam.
Penulis buku ini menyarankan sebuah kebiasaan kecil.
Setiap hari… sisihkan sekitar 15 menit.
Hanya 15 menit.
Untuk melakukan aktivitas yang secara langsung menciptakan peluang revenue.
Misalnya menghubungi pelanggan lama.
Mengirim pesan follow up.
Menanyakan apakah mereka membutuhkan sesuatu.
Memberi ide yang bisa membantu bisnis mereka.
Atau sekadar check-in sederhana.
Hal kecil seperti ini mungkin terasa tidak signifikan.
Tapi ketika dilakukan setiap hari… efeknya seperti compound interest.
Sedikit demi sedikit… hubungan bisnis bertambah.
Percakapan bertambah.
Peluang bertambah.
Dan akhirnya revenue juga bertambah.
Salah satu hal yang sering menjadi penghalang dalam hal ini sebenarnya bukan strategi.
Tapi psikologi.
Banyak orang merasa tidak nyaman “menawarkan”.
Mereka takut dianggap mengganggu.
Takut dianggap memaksa.
Takut dianggap terlalu salesy.
Padahal sebenarnya… jika kita melakukannya dengan niat membantu, bukan memaksa…
Percakapan seperti ini justru sangat dihargai.
Bayangkan kamu memiliki supplier yang sesekali menghubungimu dan berkata,
“Kalau ada sesuatu yang bisa kami bantu untuk bisnis kamu bulan ini, kabari saja ya.”
Itu bukan terasa seperti sales pitch.
Itu terasa seperti perhatian.
Dan sering kali… bisnis justru terjadi dari percakapan sederhana seperti itu.
Hal lain yang menurut saya sangat menarik dari buku ini adalah ide tentang pelanggan yang “tidur”.
Dormant customers.
Ini pelanggan yang dulu pernah membeli… tapi sudah lama tidak aktif.
Banyak bisnis hampir tidak pernah mencoba menghidupkan kembali pelanggan ini.
Padahal potensi revenue di sana sangat besar.
Kadang pelanggan berhenti membeli bukan karena mereka tidak suka.
Tapi karena mereka lupa.
Karena ada banyak hal lain dalam hidup.
Karena bisnis mereka berubah.
Karena timing saja.
Dan sering kali… satu pesan sederhana bisa menghidupkan kembali relationship itu.
Misalnya sekadar bertanya,
“Sudah lama kita tidak ngobrol. Bagaimana perkembangan bisnis kamu sekarang?”
Bukan langsung jualan.
Tapi membuka percakapan.
Saya rasa ini adalah sesuatu yang sangat selaras dengan filosofi relationship dalam bisnis.
Bisnis pada akhirnya bukan hanya tentang transaksi.
Bisnis adalah tentang hubungan.
Dan hubungan… perlu dipelihara.
Hal lain yang saya refleksikan dari buku ini adalah bagaimana kita sering kali overestimate strategi besar…
dan underestimate kebiasaan kecil.
Banyak orang mencari growth hack.
Strategi viral.
Trik marketing terbaru.
Padahal growth jangka panjang sering kali datang dari disiplin melakukan hal sederhana secara konsisten.
Sedikit seperti olahraga.
Tidak ada satu workout ajaib yang membuat tubuh sehat dalam seminggu.
Yang membuat tubuh berubah adalah kebiasaan kecil… yang dilakukan bertahun-tahun.
Hal yang sama juga berlaku dalam bisnis.
Dan ini juga sangat relevan bagi kita sebagai Parentpreneur.
Karena ketika kita punya keluarga… waktu kita terbatas.
Kita tidak bisa selalu mengejar strategi yang membutuhkan energi besar.
Kita perlu sistem yang realistis.
Sistem yang bisa berjalan bahkan di tengah kehidupan keluarga.
Saya pribadi sangat menyukai ide bahwa growth bisa datang dari 15 menit aktivitas yang disengaja setiap hari.
Bukan karena 15 menit itu ajaib.
Tapi karena 15 menit itu realistis.
15 menit adalah sesuatu yang hampir semua orang bisa lakukan.
Dan sering kali… hal yang realistis jauh lebih powerful daripada hal yang spektakuler.
Karena yang realistis… bisa konsisten.
Dan konsistensi… adalah kekuatan yang sangat underrated dalam bisnis.
Insight lain dari buku ini yang menurut saya penting adalah bagaimana cara kita berbicara tentang produk kita.
Banyak bisnis menjelaskan produk mereka dengan fokus pada fitur.
Padahal pelanggan sebenarnya lebih peduli pada manfaat.
Bukan apa yang produk itu lakukan.
Tapi apa yang berubah dalam hidup mereka karena produk itu.
Ini mungkin terdengar seperti prinsip marketing yang sangat klasik.
Tapi kenyataannya… banyak bisnis masih melakukan kesalahan ini.
Mereka terlalu sibuk menjelaskan spesifikasi.
Padahal pelanggan hanya ingin tahu satu hal.
“Ini membantu saya bagaimana?”
Dan sering kali… percakapan sederhana dengan pelanggan bisa membantu kita memahami ini lebih baik.
Karena dari percakapan itulah kita belajar bahasa yang sebenarnya digunakan oleh pelanggan.
Bukan bahasa marketing yang kita buat di kantor.
Tapi bahasa nyata dari kehidupan mereka.
Semakin saya memikirkan buku ini… semakin saya merasa bahwa inti pesannya sebenarnya sangat sederhana.
Revenue growth bukan hanya tentang strategi.
Revenue growth adalah tentang kebiasaan.
Kebiasaan untuk tetap hadir.
Kebiasaan untuk tetap berkomunikasi.
Kebiasaan untuk tetap membangun relationship.
Dan kebiasaan untuk tidak hanya menunggu peluang…
tapi menciptakan peluang.
Sebagai seorang Daddy yang juga menjalankan bisnis… ini sesuatu yang sangat saya refleksikan.
Karena tujuan saya dalam bekerja sebenarnya bukan hanya income.
Tujuan saya adalah freedom.
Freedom untuk hadir di rumah.
Freedom untuk melihat anak saya tumbuh setiap hari.
Freedom untuk tidak selalu hidup dalam tekanan hustle.
Dan untuk mencapai itu… saya percaya kita butuh bisnis yang dibangun di atas sistem.
Bukan hanya energi sesaat.
Dan mungkin… salah satu sistem paling sederhana yang bisa kita mulai adalah kebiasaan kecil ini.
Setiap hari… meluangkan sedikit waktu…
untuk secara sengaja menciptakan percakapan bisnis yang positif.
Bukan dengan tekanan.
Bukan dengan manipulasi.
Tapi dengan niat membantu.
Karena pada akhirnya… bisnis yang sehat adalah bisnis yang dibangun di atas relationship yang sehat.
Kalau saya harus mengambil satu refleksi utama dari buku ini…
mungkin ini.
Pertumbuhan besar sering kali berasal dari tindakan kecil yang dilakukan secara konsisten.
Bukan dari satu langkah besar yang spektakuler.
Dan ini bukan hanya berlaku dalam bisnis.
Ini juga berlaku dalam hidup.
Dalam pernikahan.
Dalam parenting.
Dalam kesehatan.
Hal kecil yang dilakukan setiap hari… pada akhirnya membentuk arah hidup kita.
Saya sendiri juga masih belajar mempraktikkan hal-hal ini.
Belajar untuk lebih proaktif.
Belajar untuk lebih menjaga relationship.
Dan belajar untuk membangun kebiasaan kecil yang bisa membawa dampak besar dalam jangka panjang.
Karena kalau kita sebagai PARENT ingin membangun sesuatu yang berkelanjutan…
kita tidak hanya butuh strategi.
Kita butuh kebiasaan.
Kebiasaan yang sederhana.
Kebiasaan yang realistis.
Dan kebiasaan yang bisa kita lakukan… bahkan di tengah kehidupan keluarga yang sibuk.
Mungkin dari situ… pertumbuhan yang sebenarnya justru mulai terjadi.
Kami adalah suami-istri di balik Parentpreneur Indonesia membangun komunitas untuk PARENT upgrade mindset, income, parenting, AI & digital skills bersama bersama tanpa mengorbankan keluarga Di sini kita share cerita nyata, sistem yang kita pakai sendiri, dan pelajaran yang gagal maupun yang berhasil yang kita dapatkan di tengah perjalanan sebagai PARENTPRENEUR dengan dua anak kecil. Dengan satu tujuan kita: Build Family. Build Wealth. Build Legacy.
Lihat semua artikel oleh Parentpreneur.id →