Book

Kenapa Customer Sebenarnya Membeli? (Insight Penting dari Buku Buyer Personas)

Parentpreneur.id · December 15, 2025 · 8 min read
Share:

Kadang saya suka berpikir… kenapa ada bisnis yang kelihatannya sangat pintar, punya tim marketing besar, budget iklan besar… tapi tetap gagal menjual produknya.

Padahal produknya bagus.

Sementara di sisi lain… ada bisnis yang kelihatannya sederhana sekali.

Tim kecil.

Marketingnya bahkan kelihatan biasa saja.

Tapi anehnya… mereka terus tumbuh.

Customer loyal.

Penjualan stabil.

Dan kadang kita melihatnya sambil bertanya dalam hati…

“Sebenarnya mereka melakukan apa yang berbeda?”

Semakin lama saya belajar bisnis, saya mulai sadar satu hal yang agak tidak nyaman.

Masalah terbesar kebanyakan bisnis… bukan produk.

Bukan juga marketing channel.

Bahkan sering kali bukan soal harga.

Masalah terbesar biasanya jauh lebih sederhana.

Mereka tidak benar-benar memahami siapa yang membeli dari mereka.

Dan insight ini saya temukan dengan sangat jelas dari sebuah buku marketing yang menurut saya sangat underrated.

Judulnya “Buyer Personas” karya Adele Revella.

Buku ini tidak terlalu terkenal seperti buku marketing klasik lainnya.

Tapi setelah saya membacanya… saya merasa seperti menemukan potongan puzzle yang selama ini hilang dalam dunia marketing.

Karena ternyata… banyak sekali marketing gagal bukan karena kita tidak bekerja keras.

Tapi karena kita berbicara kepada orang yang sebenarnya tidak kita pahami.

Dan buat saya sebagai seseorang yang menjalani hidup sebagai Parentpreneur… insight ini terasa sangat relevan.

Karena waktu kita terbatas.

Kita tidak punya luxury untuk membuang energi ke strategi marketing yang salah arah.

Kita harus memastikan… apa yang kita katakan benar-benar nyambung dengan orang yang ingin kita bantu.

Dan di sinilah konsep buyer persona menjadi sangat penting.

Banyak orang sebenarnya pernah mendengar istilah ini.

Tapi sering dipahami dengan cara yang terlalu dangkal.

Biasanya kalau orang membuat buyer persona… mereka menulis sesuatu seperti ini.

“Target market: wanita usia 25–35 tahun, tinggal di kota besar, suka belanja online.”

Kedengarannya rapi.

Tapi sebenarnya hampir tidak berguna.

Karena informasi seperti itu tidak membantu kita memahami bagaimana seseorang membuat keputusan membeli.

Dan inilah yang menjadi fokus utama buku ini.

Buyer persona yang benar… bukan sekadar data demografi.

Buyer persona adalah cerita tentang bagaimana seseorang membuat keputusan.

Apa yang mereka takutkan.

Apa yang mereka harapkan.

Apa yang membuat mereka ragu.

Apa yang akhirnya membuat mereka berkata…

“Ya, saya beli.”

Kalau kita tidak memahami proses ini… marketing kita sebenarnya seperti menembak dalam gelap.

Kadang kena.

Kadang tidak.

Tapi kita tidak pernah benar-benar tahu kenapa.

Saya suka analogi sederhana yang muncul di buku ini.

Bayangkan kita menjual sofa.

Sofa adalah barang besar.

Mahal.

Orang tidak membeli sofa setiap bulan.

Biasanya orang berpikir lama sebelum membeli.

Mereka mungkin membaca review.

Melihat beberapa toko.

Membandingkan harga.

Bertanya kepada pasangan.

Melihat apakah ukurannya cocok dengan ruang tamu.

Semua proses ini terjadi di dalam pikiran mereka.

Dan kalau kita tidak memahami proses ini… marketing kita hanya menebak-nebak.

Kita mungkin fokus menjelaskan fitur sofa.

Atau diskon.

Atau warna.

Padahal… mungkin yang paling mereka khawatirkan sebenarnya adalah sesuatu yang berbeda.

Misalnya…

Apakah sofa ini akan tahan lama?

Apakah pengirimannya ribet?

Apakah kalau rusak bisa diperbaiki?

Hal-hal seperti ini sering jauh lebih penting daripada fitur yang kita promosikan.

Dan di sinilah insight penting pertama dari buku ini muncul.

Banyak perusahaan membuat keputusan marketing tanpa pernah benar-benar berbicara dengan customer yang sudah membeli.

Mereka membuat asumsi.

Mereka membuat teori.

Mereka melakukan brainstorming di ruang meeting.

Tapi mereka tidak pernah benar-benar bertanya kepada orang yang sudah melalui proses membeli.

Padahal justru di sanalah insight paling berharga berada.

Buku ini menjelaskan sesuatu yang menurut saya sangat menarik.

Kalau kita ingin memahami customer… kita tidak perlu mewawancarai ratusan orang.

Sering kali 5 sampai 10 wawancara yang tepat sudah cukup membuka pola besar.

Yang penting bukan jumlahnya.

Yang penting adalah kita bertanya kepada orang yang baru saja membuat keputusan membeli.

Karena mereka masih ingat proses berpikirnya.

Masih ingat apa yang membuat mereka ragu.

Masih ingat apa yang akhirnya meyakinkan mereka.

Dan ketika kita mendengar cerita mereka… kita mulai melihat pola yang sebelumnya tidak terlihat.

Misalnya…

Apa yang pertama kali membuat mereka mulai mencari solusi?

Masalah apa yang mereka rasakan?

Apa yang membuat mereka mempertimbangkan berbagai pilihan?

Kenapa mereka memilih produk kita dibanding kompetitor?

Dan yang menarik… sering kali jawabannya tidak seperti yang kita bayangkan.

Banyak marketer berpikir bahwa customer membeli karena fitur produk.

Padahal sering kali bukan itu.

Kadang mereka membeli karena perasaan aman.

Kadang karena rekomendasi seseorang yang mereka percaya.

Kadang karena mereka merasa brand tersebut “mengerti mereka”.

Dan di era AI seperti sekarang… insight ini justru menjadi semakin penting.

Karena teknologi membuat semua orang bisa membuat konten.

Semua orang bisa membuat iklan.

Semua orang bisa membuat landing page.

Semua orang bisa menggunakan AI untuk menulis copywriting.

Tapi ada satu hal yang tidak bisa di-copy dengan mudah.

Pemahaman mendalam tentang manusia.

AI bisa membantu kita menulis.

AI bisa membantu kita menganalisis data.

Tapi kalau kita sendiri tidak memahami customer… maka AI hanya akan mempercepat kesalahan kita.

Saya sering melihat ini terjadi.

Orang membuat puluhan konten dengan AI.

Puluhan iklan.

Puluhan email.

Tapi semuanya terasa generik.

Karena mereka tidak benar-benar memahami siapa yang mereka ajak bicara.

Padahal kalau kita memahami buyer persona dengan benar… marketing kita berubah total.

Bahasanya berubah.

Fokusnya berubah.

Bahkan produk kita kadang ikut berubah.

Salah satu bagian dari buku ini yang menurut saya sangat membuka mata adalah konsep tentang the buying decision story.

Setiap pembelian sebenarnya adalah sebuah cerita.

Cerita yang terjadi di pikiran customer.

Cerita itu biasanya dimulai dengan sesuatu yang sederhana.

Sebuah masalah.

Sebuah rasa tidak nyaman.

Sebuah kebutuhan yang mulai muncul.

Misalnya seseorang mulai merasa pekerjaannya terlalu menyita waktu.

Ia mulai berpikir tentang bisnis online.

Lalu ia mulai mencari informasi.

Menonton video.

Membaca artikel.

Mendengar pengalaman orang lain.

Semua ini adalah bagian dari cerita keputusan membeli.

Dan kalau kita memahami cerita ini… kita bisa hadir di setiap tahap perjalanan mereka.

Bukan hanya menjual di akhir.

Tapi membantu mereka berpikir sepanjang prosesnya.

Dan menurut saya… inilah marketing yang sebenarnya sehat.

Bukan memaksa orang membeli.

Tapi membantu mereka membuat keputusan yang lebih jelas.

Ada juga insight menarik lainnya dari buku ini.

Sering kali perusahaan terlalu fokus pada apa yang ingin mereka katakan.

Padahal yang jauh lebih penting adalah apa yang ingin didengar oleh customer.

Ini terdengar sederhana.

Tapi implikasinya besar sekali.

Banyak website perusahaan penuh dengan kalimat seperti:

“Kami adalah perusahaan terdepan.”

“Kami memiliki teknologi terbaik.”

“Kami berkomitmen pada kualitas.”

Tapi customer sebenarnya tidak terlalu peduli dengan kalimat seperti itu.

Yang mereka pikirkan adalah sesuatu yang jauh lebih sederhana.

“Apakah ini akan menyelesaikan masalah saya?”

“Apakah ini layak dengan uang yang saya keluarkan?”

“Apakah ini keputusan yang aman?”

Kalau kita memahami buyer persona dengan baik… kita mulai menulis marketing dari perspektif mereka.

Bukan dari perspektif kita.

Dan perubahan kecil ini bisa mengubah seluruh komunikasi brand.

Bahkan dalam kehidupan sehari-hari sebagai Parentpreneur… saya sering memikirkan hal ini.

Kadang kita terlalu fokus pada apa yang ingin kita bangun.

Produk apa yang ingin kita buat.

Program apa yang ingin kita jual.

Padahal mungkin pertanyaan yang lebih penting adalah…

Apa sebenarnya yang sedang dialami oleh orang yang ingin kita bantu?

Apa yang membuat mereka gelisah malam hari?

Apa yang mereka harapkan berubah dalam hidup mereka?

Karena bisnis yang bertahan lama biasanya bukan bisnis yang paling pintar.

Tapi bisnis yang paling mengerti manusia.

Dan semakin saya belajar tentang marketing… semakin saya merasa bahwa marketing sebenarnya adalah bentuk empati.

Empati dalam skala besar.

Kemampuan untuk melihat dunia dari sudut pandang orang lain.

Memahami perjuangan mereka.

Memahami harapan mereka.

Dan kemudian menciptakan sesuatu yang benar-benar membantu mereka bergerak maju.

Buku Buyer Personas ini sebenarnya tidak memberikan trik marketing yang flashy.

Tidak ada hack.

Tidak ada shortcut.

Tapi justru karena itu… menurut saya buku ini sangat kuat.

Karena ia mengingatkan kita pada sesuatu yang fundamental.

Bahwa di balik setiap angka penjualan…

di balik setiap klik iklan…

di balik setiap conversion rate…

ada manusia.

Manusia dengan cerita hidupnya sendiri.

Dan kalau kita ingin membangun bisnis yang meaningful… kita harus belajar memahami cerita itu.

Saya sendiri juga masih belajar mempraktikkan hal ini.

Kadang kita tergoda untuk bergerak cepat.

Membuat campaign baru.

Mencoba channel baru.

Tapi buku ini mengingatkan saya untuk sesekali berhenti.

Duduk.

Berbicara dengan orang yang benar-benar menggunakan apa yang kita buat.

Mendengar cerita mereka.

Dan dari sana… biasanya kita menemukan insight yang jauh lebih berharga daripada ratusan data analytics.

Karena pada akhirnya…

bisnis bukan hanya tentang menjual sesuatu.

Bisnis adalah tentang membantu seseorang bergerak dari satu kondisi hidup… ke kondisi hidup yang lebih baik.

Dan kalau kita benar-benar memahami orang yang kita bantu…

marketing kita tidak lagi terasa seperti menjual.

Tapi terasa seperti percakapan yang jujur.

Saya sendiri masih terus belajar melakukan ini dengan lebih baik.

Memahami orang.

Mendengar cerita mereka.

Dan mencoba membangun sesuatu yang benar-benar relevan dengan perjalanan hidup mereka.

Mungkin itulah pelajaran terbesar yang saya ambil dari buku ini.

Bukan hanya tentang buyer persona.

Tapi tentang mengingat bahwa di balik setiap bisnis…

selalu ada manusia yang ingin dipahami.

Parentpreneur.id
Parentpreneur.id

Kami adalah suami-istri di balik Parentpreneur Indonesia membangun komunitas untuk PARENT upgrade mindset, income, parenting, AI & digital skills bersama bersama tanpa mengorbankan keluarga Di sini kita share cerita nyata, sistem yang kita pakai sendiri, dan pelajaran yang gagal maupun yang berhasil yang kita dapatkan di tengah perjalanan sebagai PARENTPRENEUR dengan dua anak kecil. Dengan satu tujuan kita: Build Family. Build Wealth. Build Legacy.

Lihat semua artikel oleh Parentpreneur.id →