Pernah nggak kamu memperhatikan sesuatu yang agak aneh di zaman sekarang?
Kita hidup di era video pendek, TikTok, Reels, YouTube Shorts… semua orang bilang perhatian manusia makin pendek. Orang nggak suka baca. Semua harus visual. Semua harus cepat.
Tapi anehnya, justru di era seperti ini… kemampuan menulis malah jadi semakin penting.
Coba pikirkan.
Setiap hari kita menulis.
Kita menulis caption.
Kita menulis email.
Kita menulis WhatsApp.
Kita menulis landing page.
Kita menulis sales page.
Kita menulis iklan.
Bahkan kalau kamu menjalankan bisnis online… hampir semua uang yang masuk ke rekening kamu sebenarnya datang dari satu hal yang sangat sederhana.
Kata-kata.
Seseorang membaca sesuatu… lalu memutuskan untuk percaya.
Seseorang membaca sesuatu… lalu memutuskan untuk klik.
Seseorang membaca sesuatu… lalu memutuskan untuk membeli.
Dan beberapa waktu lalu saya menemukan sebuah buku yang membahas hal ini dengan sangat menarik.
Judulnya sederhana… tapi jujur sangat powerful.
“Everybody Writes” karya Ann Handley.
Dan ide besarnya sebenarnya sangat sederhana.
Menulis itu bukan lagi skill khusus untuk penulis.
Menulis sekarang adalah skill dasar untuk siapa pun yang hidup di dunia digital.
Termasuk… kita sebagai parentpreneur.
Saya mulai sadar ini beberapa tahun lalu waktu pertama kali benar-benar serius membangun bisnis online.
Awalnya saya pikir yang paling penting itu traffic.
Belajar Facebook Ads.
Belajar funnel.
Belajar targeting.
Semua itu memang penting.
Tapi lama-lama saya sadar sesuatu yang agak menyakitkan.
Kadang masalahnya bukan di traffic.
Masalahnya… di tulisan.
Iklan sudah jalan.
Orang sudah datang ke landing page.
Tapi tidak ada yang beli.
Dan setelah dilihat lagi…
Headline-nya biasa saja.
Copy-nya terlalu panjang tapi tidak jelas.
Bahasanya terasa seperti brosur perusahaan… bukan seperti manusia yang sedang berbicara.
Dan di situlah saya mulai benar-benar menyadari sesuatu.
Di internet… semua orang adalah penulis.
Mau kamu sadar atau tidak.
Setiap caption adalah tulisan.
Setiap email adalah tulisan.
Setiap sales page adalah tulisan.
Dan kalau tulisan kita buruk…
Orang tidak akan bertahan cukup lama untuk mendengar pesan kita.
Di buku ini Ann Handley mengatakan sesuatu yang menurut saya sangat sederhana… tapi sangat dalam.
Menulis yang baik bukan tentang menulis yang rumit.
Menulis yang baik adalah menulis yang jelas.
Karena tujuan tulisan sebenarnya hanya satu.
Membantu orang memahami sesuatu.
Bukan membuat kita terlihat pintar.
Ini menarik sekali kalau dipikirkan.
Karena banyak orang… termasuk saya dulu… menulis dengan cara yang aneh.
Kita mencoba terdengar pintar.
Kita menggunakan kata-kata yang terlalu formal.
Kalimatnya panjang.
Strukturnya rumit.
Seolah-olah semakin kompleks tulisannya… semakin kredibel.
Padahal yang terjadi justru sebaliknya.
Semakin sulit tulisan dibaca… semakin cepat orang pergi.
Di internet… clarity beats cleverness.
Kejelasan selalu menang melawan kerumitan.
Dan ini bukan cuma soal marketing.
Ini juga soal komunikasi sehari-hari.
Sebagai PARENT… kita juga sering berkomunikasi lewat tulisan.
WhatsApp ke pasangan.
Pesan ke tim.
Email ke klien.
Kalau tulisan kita tidak jelas… kesalahpahaman terjadi di mana-mana.
Salah satu ide yang sangat saya suka dari buku ini adalah konsep bahwa menulis itu sebenarnya seperti berbicara.
Banyak orang menulis seperti robot.
Bahasanya kaku.
Strukturnya terlalu formal.
Padahal kalau kita membaca tulisan yang paling enak di internet… biasanya terasa seperti seseorang sedang ngobrol dengan kita.
Natural.
Human.
Hangat.
Dan sebenarnya ini juga salah satu rahasia copywriting yang paling kuat.
Write the way you talk.
Tulis seperti kamu berbicara.
Kalau kalimatnya terasa aneh ketika dibaca keras-keras… kemungkinan besar memang aneh.
Saya sendiri kadang kalau menulis sesuatu… saya baca keras-keras.
Kalau terasa terlalu kaku… saya ubah.
Kalau terasa terlalu panjang… saya potong.
Karena di dunia digital… perhatian manusia itu mahal.
Setiap kalimat harus membantu pembaca bergerak maju.
Bukan membuat mereka berhenti.
Ada juga satu ide yang menurut saya sangat relevan untuk kita yang menjalankan bisnis online.
Ann Handley mengatakan bahwa menulis yang baik itu sebenarnya bukan soal bakat.
Ini soal latihan.
Banyak orang merasa mereka “tidak berbakat menulis”.
Padahal yang sebenarnya terjadi biasanya hanya satu.
Mereka jarang menulis.
Menulis itu seperti otot.
Semakin sering dipakai… semakin kuat.
Semakin jarang dipakai… semakin kaku.
Saya ingat waktu dulu pertama kali menulis email marketing.
Rasanya lama sekali.
Menulis satu email bisa satu jam.
Dua jam.
Kadang malah tidak jadi dikirim karena merasa tulisannya jelek.
Tapi setelah ratusan email… sesuatu berubah.
Menulis jadi lebih cepat.
Lebih natural.
Lebih jelas.
Bukan karena tiba-tiba jadi jenius.
Tapi karena ototnya mulai terbiasa.
Dan ini juga yang sering saya katakan ke teman-teman yang sedang membangun bisnis digital.
Content itu sebenarnya bukan cuma marketing.
Content itu latihan berpikir.
Ketika kamu menulis sesuatu… kamu dipaksa untuk merapikan pikiran kamu.
Ide yang di kepala terasa jelas.
Tapi ketika ditulis… baru kelihatan apakah benar-benar jelas atau tidak.
Menulis memaksa kita berpikir lebih jernih.
Dan itu sangat berharga.
Terutama kalau kamu sedang membangun sesuatu.
Ada satu lagi ide menarik dari buku ini yang menurut saya sangat relevan untuk dunia internet sekarang.
Ann Handley mengatakan bahwa tulisan yang baik selalu fokus pada pembaca.
Bukan pada penulis.
Ini kelihatannya sederhana.
Tapi implikasinya besar sekali.
Banyak brand menulis seperti ini.
“Kami adalah perusahaan yang berdedikasi memberikan solusi terbaik…”
“Kami memiliki pengalaman lebih dari 10 tahun…”
“Kami percaya pada kualitas dan integritas…”
Kalau kamu membaca kalimat seperti itu… rasanya seperti membaca brosur hotel tahun 1998.
Semua tentang mereka.
Bukan tentang kita.
Padahal pembaca sebenarnya hanya peduli satu hal.
Apa hubungannya dengan saya?
Apa manfaatnya untuk hidup saya?
Apa yang berubah setelah saya membaca ini?
Tulisan yang baik selalu menjawab pertanyaan itu.
Tulisan yang baik selalu berbicara dari sudut pandang pembaca.
Bukan dari sudut pandang perusahaan.
Dan ini juga salah satu perubahan cara berpikir yang sangat penting dalam dunia digital marketing.
Kita tidak lagi sekadar “menyampaikan pesan”.
Kita sedang membangun hubungan.
Kita sedang berbicara dengan manusia.
Bukan dengan target market abstrak.
Salah satu bagian dari buku ini yang menurut saya sangat powerful adalah ide bahwa setiap konten yang kita buat sebenarnya adalah kesempatan untuk membantu orang.
Bukan sekadar menjual sesuatu.
Ini menarik sekali.
Karena banyak orang melihat content marketing sebagai kewajiban.
“Harus posting.”
“Harus bikin caption.”
“Harus bikin artikel.”
Padahal kalau kita melihatnya dari sudut pandang yang berbeda…
Setiap konten sebenarnya adalah kesempatan untuk memberi nilai.
Memberi perspektif baru.
Memberi insight.
Memberi solusi kecil.
Dan ketika orang merasa kita membantu mereka… kepercayaan mulai terbentuk.
Trust tidak dibangun oleh iklan besar.
Trust dibangun oleh ratusan interaksi kecil.
Satu caption.
Satu email.
Satu artikel.
Satu video.
Sedikit demi sedikit.
Seperti compound effect.
Ada juga satu prinsip sederhana dari buku ini yang menurut saya sangat praktis.
Edit ruthlessly.
Artinya… berani memotong.
Kadang tulisan kita terlalu panjang.
Bukan karena ide kita banyak.
Tapi karena kita belum cukup jelas.
Sering kali… tulisan yang bagus bukan hasil dari menambah kalimat.
Tapi dari menghapus kalimat.
Saya sering melakukan ini ketika menulis sesuatu.
Menulis dulu semuanya.
Lalu kembali lagi.
Mulai memotong.
Kalimat ini tidak perlu.
Paragraf ini bisa dipersingkat.
Ide ini bisa dijelaskan lebih sederhana.
Hasilnya biasanya jauh lebih kuat.
Karena tulisan yang bagus itu biasanya terasa ringan dibaca.
Seolah-olah mengalir.
Padahal sebenarnya di belakangnya ada proses editing yang cukup serius.
Hal lain yang menurut saya sangat penting dari buku ini adalah ide bahwa menulis itu bukan hanya skill marketing.
Ini skill berpikir.
Kalau kamu ingin menjadi pemimpin yang baik… kamu harus bisa menjelaskan ide dengan jelas.
Kalau kamu ingin membangun tim… kamu harus bisa menulis instruksi dengan jelas.
Kalau kamu ingin membangun brand… kamu harus bisa menyampaikan cerita dengan jelas.
Semua kembali ke satu hal.
Kata-kata.
Dan di era AI sekarang ini… justru kemampuan ini menjadi semakin penting.
Karena AI bisa membantu menulis.
Tapi AI tidak menggantikan pemikiran.
AI bisa membantu merapikan kalimat.
Tapi ide besar tetap datang dari manusia.
AI bisa membantu membuat draft.
Tapi perspektif tetap datang dari pengalaman hidup.
Dan menurut saya inilah alasan kenapa kemampuan menulis masih sangat berharga.
Karena menulis sebenarnya bukan hanya soal kata.
Menulis adalah cara kita memproses dunia.
Cara kita memahami pengalaman.
Cara kita membagikan pelajaran.
Sebagai seorang daddy… saya juga sering memikirkan ini.
Suatu hari nanti anak-anak saya mungkin akan membaca tulisan-tulisan saya.
Caption.
Email.
Artikel.
Atau mungkin buku.
Dan saya berharap ketika mereka membaca… mereka bisa merasakan sesuatu yang sederhana.
Bahwa daddy mereka adalah seseorang yang terus belajar.
Seseorang yang mencoba memahami dunia sedikit demi sedikit.
Dan mungkin… itulah sebenarnya esensi dari menulis.
Bukan untuk terlihat pintar.
Bukan untuk terlihat hebat.
Tapi untuk berpikir lebih jernih.
Untuk berbagi perjalanan.
Untuk membantu orang lain melihat sesuatu dari sudut pandang yang baru.
Kalau ada satu hal yang paling saya ambil dari buku Everybody Writes ini… mungkin ini.
Di dunia digital… kata-kata adalah aset.
Satu kalimat yang jelas bisa mengubah cara seseorang berpikir.
Satu paragraf yang tepat bisa membuat seseorang mengambil keputusan.
Satu cerita yang jujur bisa membuat seseorang merasa tidak sendirian.
Dan mungkin… itu juga alasan kenapa saya masih suka membaca buku seperti ini.
Bukan karena saya ingin menjadi penulis hebat.
Tapi karena saya ingin menjadi komunikator yang lebih baik.
Sebagai daddy.
Sebagai parentpreneur.
Sebagai manusia yang sedang belajar.
Dan jujur saja… saya sendiri juga masih terus belajar menulis lebih baik.
Masih belajar membuat kalimat lebih jelas.
Masih belajar menyederhanakan ide.
Masih belajar berbicara seperti manusia… bukan seperti brosur perusahaan.
Tapi mungkin memang seperti itu prosesnya.
Sedikit demi sedikit.
Tulisan demi tulisan.
Ide demi ide.
Dan siapa tahu… dari semua kata-kata kecil yang kita tulis hari ini…
Ada satu yang benar-benar membantu seseorang di luar sana.
Kalau itu terjadi…
Mungkin semua latihan menulis ini memang layak dilakukan.
Kami adalah suami-istri di balik Parentpreneur Indonesia membangun komunitas untuk PARENT upgrade mindset, income, parenting, AI & digital skills bersama bersama tanpa mengorbankan keluarga Di sini kita share cerita nyata, sistem yang kita pakai sendiri, dan pelajaran yang gagal maupun yang berhasil yang kita dapatkan di tengah perjalanan sebagai PARENTPRENEUR dengan dua anak kecil. Dengan satu tujuan kita: Build Family. Build Wealth. Build Legacy.
Lihat semua artikel oleh Parentpreneur.id →