Book

Kenapa Produk Bagus Tetap Tidak Laku? (Pelajaran Copywriting yang Mengubah Cara Saya Melihat Bisnis)

Parentpreneur.id · December 8, 2025 · 8 min read
Share:

Kadang saya suka berpikir tentang satu hal yang agak aneh di dunia bisnis.

Ada perusahaan yang produknya sebenarnya bagus…
fiturnya lengkap…
harganya kompetitif…

tapi tetap saja… tidak laku.

Sementara ada brand lain yang produknya biasa saja… bahkan kadang lebih mahal… tapi orang tetap beli.

Kalau dipikir-pikir, ini sebenarnya bukan soal produk.

Ini soal… bagaimana produk itu dikomunikasikan.

Karena dalam banyak kasus, yang benar-benar mempengaruhi keputusan orang bukan hanya logika… tapi emosi.

Dan beberapa waktu lalu saya menemukan cara menjelaskan fenomena ini dengan sangat sederhana dari sebuah buku tentang copywriting.

Judulnya “Persuasive Copywriting” dari Andy Maslen.

Buku ini bukan buku marketing yang penuh teori rumit.

Justru sebaliknya.

Isinya sederhana… tapi ketika saya membaca dan merenungkannya, saya merasa seperti sedang diingatkan lagi tentang satu hal penting:

Bahwa dalam bisnis…
kata-kata itu bukan sekadar kata-kata.

Kata-kata bisa menggerakkan orang.

Kata-kata bisa membangun kepercayaan.

Dan kadang…
kata-kata yang tepat bisa mengubah nasib sebuah bisnis.

Menariknya, ide besar dari buku ini sebenarnya cukup sederhana.

Copywriting yang baik bukan tentang bagaimana kita mengekspresikan diri kita.

Tapi tentang bagaimana kita masuk ke dalam pikiran orang lain.

Dan semakin saya memikirkan hal ini… semakin terasa relevan dengan kehidupan sebagai Parentpreneur.

Karena banyak PARENT yang membangun bisnis online sekarang.

Ada yang jual produk digital.
Ada yang jual jasa.
Ada yang bangun brand personal.

Tapi sering kali kita membuat satu kesalahan yang sama.

Kita menulis dari sudut pandang kita.

Bukan dari sudut pandang orang yang membaca.

Misalnya begini.

Kita menulis:

“Saya membuat produk ini karena saya sangat passionate membantu orang.”

Kalimat itu mungkin jujur.

Tapi kalau dipikir lagi…

Apakah itu yang paling penting bagi orang yang membaca?

Belum tentu.

Orang yang membaca sebenarnya sedang memikirkan hal lain.

Mereka mungkin sedang berpikir:

“Apakah ini bisa membantu saya?”
“Apakah ini bisa menyelesaikan masalah saya?”
“Apakah ini worth it?”

Jadi sebenarnya…
fokus mereka bukan pada kita.

Fokus mereka pada diri mereka sendiri.

Dan ini bukan egois.

Ini manusiawi.

Andy Maslen menjelaskan satu prinsip yang menurut saya sangat kuat.

Copy yang baik tidak menyentuh emosi penulis.
Copy yang baik menyentuh emosi pembaca.

Kalimat ini sederhana.

Tapi implikasinya besar sekali.

Karena kalau kita jujur… banyak copy di internet hari ini sebenarnya lebih mirip curhat brand daripada komunikasi yang benar-benar relevan dengan pembaca.

Brand berbicara tentang dirinya sendiri.

Tentang visinya.

Tentang perjalanannya.

Tentang kehebatannya.

Padahal orang yang membaca sedang bertanya satu hal yang sangat sederhana:

“Ini penting buat saya… atau tidak?”

Saya sering melihat ini juga dalam dunia ads.

Ada bisnis yang menghabiskan budget besar untuk iklan.

Traffic masuk.

Click ada.

Tapi konversinya rendah.

Ketika dilihat lebih dalam…

Masalahnya sering bukan di produknya.

Masalahnya di pesannya.

Karena pesan yang disampaikan tidak benar-benar masuk ke dalam dunia emosional orang yang membaca.

Padahal kalau kita melihat sejarah marketing… satu hal sebenarnya tidak pernah berubah.

Teknologi berubah.

Platform berubah.

Dulu direct mail.

Sekarang email, landing page, social media, TikTok, YouTube.

Tapi manusia?

Masih sama.

Kita masih punya rasa takut.

Masih punya keinginan.

Masih punya harapan.

Masih ingin hidup lebih baik.

Masih ingin merasa aman.

Masih ingin merasa dihargai.

Dan copywriting yang baik selalu berangkat dari sini.

Bukan dari teknologi.

Tapi dari psikologi manusia.

Hal lain yang membuat saya berpikir cukup lama adalah satu ide sederhana:

Bahwa tujuan copywriting sebenarnya hanya satu.

Membuat seseorang mengambil aksi.

Aksi itu bisa macam-macam.

Mungkin membeli.

Mungkin mendaftar.

Mungkin meninggalkan email.

Mungkin sekadar membaca lebih lanjut.

Tapi tetap saja…

Tujuannya adalah menggerakkan orang.

Dan kalau dipikir lagi… ini sebenarnya mirip sekali dengan komunikasi dalam kehidupan sehari-hari.

Misalnya sebagai PARENT.

Ketika kita berbicara dengan anak…

Kita sebenarnya juga sedang mencoba mempengaruhi tindakan mereka.

Kita ingin mereka belajar.

Kita ingin mereka bersikap baik.

Kita ingin mereka membuat keputusan yang bijak.

Tapi kalau cara kita berbicara salah…

Pesannya tidak sampai.

Bukan karena anak kita keras kepala.

Tapi karena cara komunikasinya tidak menyentuh mereka.

Dan dalam bisnis… hal yang sama terjadi.

Produk bagus tidak cukup.

Harga bagus tidak cukup.

Traffic besar tidak cukup.

Kalau pesan kita tidak menyentuh emosi yang tepat…
orang tidak bergerak.

Salah satu bagian dari buku ini yang menurut saya sangat menarik adalah ide bahwa copywriting yang kuat selalu dimulai dengan empati.

Bukan teknik.

Bukan formula headline.

Bukan trik psikologi.

Tapi empati.

Memahami siapa yang kita ajak bicara.

Apa yang mereka khawatirkan.

Apa yang mereka inginkan.

Apa yang membuat mereka sulit tidur di malam hari.

Kalau kita tidak memahami ini…
maka semua teknik copywriting sebenarnya hanya kosmetik.

Bayangkan kita berbicara dengan seseorang tanpa benar-benar mendengarkan mereka.

Pasti terasa aneh.

Dan dalam marketing… itu sering terjadi.

Brand berbicara.

Tapi tidak benar-benar mendengarkan.

Saya sering memikirkan ini dalam konteks Parentpreneur.

Karena banyak PARENT yang memulai bisnis dengan niat baik.

Ingin punya income tambahan.

Ingin punya fleksibilitas waktu.

Ingin lebih dekat dengan keluarga.

Tapi ketika masuk ke dunia marketing… sering terasa seperti dunia yang bising sekali.

Semua orang berteriak.

Semua orang jualan.

Semua orang mencoba menarik perhatian.

Dan dalam kebisingan itu… kata Andy Maslen… tugas copywriting adalah cut through the noise.

Menembus kebisingan.

Bukan dengan berteriak lebih keras.

Tapi dengan berbicara lebih relevan.

Ada perbedaan besar antara dua hal ini.

Berteriak lebih keras hanya membuat kebisingan semakin besar.

Tapi berbicara lebih relevan membuat orang berhenti… dan mendengarkan.

Dan sering kali relevansi itu datang dari hal yang sangat sederhana.

Bahasa yang manusiawi.

Cerita yang relatable.

Masalah yang benar-benar nyata.

Bukan jargon marketing.

Bukan kata-kata besar.

Bukan klaim bombastis.

Saya juga suka satu perspektif yang muncul dari buku ini.

Bahwa copywriting sebenarnya bukan tentang menulis.

Tapi tentang berpikir dengan jelas.

Karena sebelum kita bisa menulis pesan yang kuat… kita harus memahami dengan jelas:

Siapa yang kita ajak bicara.

Masalah apa yang mereka hadapi.

Dan bagaimana solusi kita masuk ke dalam hidup mereka.

Kalau tiga hal ini tidak jelas…
tulisan kita biasanya akan terasa kabur.

Saya sering melihat ini dalam landing page.

Kalimatnya panjang.

Banyak paragraf.

Tapi setelah membaca semuanya… kita masih bingung.

Sebenarnya ini produk apa?

Untuk siapa?

Dan kenapa saya harus peduli?

Ini bukan masalah grammar.

Ini masalah clarity.

Dan clarity itu datang dari cara berpikir.

Bukan sekadar kemampuan menulis.

Hal lain yang cukup menarik adalah bagaimana Andy Maslen menekankan bahwa copywriting yang baik selalu fokus pada benefit, bukan hanya feature.

Ini mungkin terdengar klise di dunia marketing.

Tapi kalau dipikir lagi… ini sebenarnya sangat dalam.

Feature adalah apa yang produk kita miliki.

Benefit adalah bagaimana produk itu mengubah kehidupan orang.

Dan manusia tidak membeli feature.

Manusia membeli perubahan dalam hidup mereka.

Orang tidak membeli kursi.

Orang membeli kenyamanan.

Orang tidak membeli kamera.

Orang membeli kenangan.

Orang tidak membeli program bisnis.

Orang membeli harapan untuk masa depan yang lebih baik.

Ketika kita mulai melihat marketing dari sudut pandang ini… semuanya terasa berbeda.

Karena kita tidak lagi hanya menjual barang.

Kita berbicara tentang transformasi.

Dan sebagai Parentpreneur… ini terasa sangat relevan.

Karena banyak dari kita membangun bisnis bukan hanya untuk uang.

Tapi untuk kehidupan yang lebih seimbang.

Lebih dekat dengan keluarga.

Lebih hadir untuk anak.

Lebih punya kebebasan waktu.

Kalau kita menulis copy hanya tentang produk… kita kehilangan cerita yang lebih besar.

Padahal cerita itulah yang sering menyentuh hati orang.

Ada satu refleksi lain yang muncul ketika saya membaca buku ini.

Bahwa copywriting sebenarnya adalah bentuk respect kepada pembaca.

Karena kita menghargai waktu mereka.

Kita tidak membuat mereka bekerja keras untuk memahami pesan kita.

Kita membantu mereka memahami dengan cepat.

Dengan jelas.

Dengan jujur.

Dan menurut saya ini penting sekali di era sekarang.

Karena perhatian manusia semakin mahal.

Semua platform berebut attention.

Semua brand berebut perhatian.

Dan kalau pesan kita tidak jelas dalam beberapa detik pertama…

orang akan pergi.

Bukan karena mereka tidak tertarik.

Tapi karena mereka tidak mengerti.

Ini mengingatkan saya pada satu prinsip sederhana dalam komunikasi:

Kalau orang tidak paham… itu bukan kesalahan mereka.

Itu biasanya kesalahan kita sebagai komunikator.

Dan mungkin itu juga alasan kenapa copywriting masih relevan sampai hari ini.

Meskipun teknologi berubah.

AI muncul.

Platform baru muncul.

Tapi selama manusia masih membuat keputusan berdasarkan emosi…
copywriting tetap penting.

Bahkan mungkin… semakin penting.

Karena semakin banyak konten di internet… semakin sulit untuk benar-benar didengar.

Dan pada akhirnya… buku ini membuat saya berpikir tentang satu hal yang cukup sederhana.

Bahwa dalam bisnis… kita sering terlalu fokus pada hal yang kompleks.

Tools baru.

Platform baru.

Algoritma baru.

Padahal kadang hal yang paling berdampak justru sangat fundamental.

Memahami manusia.

Berbicara dengan jelas.

Dan menulis dengan empati.

Bagi saya pribadi… itu mungkin pelajaran terbesar dari buku ini.

Bahwa kata-kata bisa menjadi jembatan antara sebuah ide… dan sebuah tindakan.

Antara sebuah produk… dan seseorang yang benar-benar membutuhkannya.

Dan sebagai seseorang yang masih terus belajar… saya juga mencoba mengingatkan diri sendiri tentang hal ini.

Bahwa setiap kali menulis sesuatu untuk bisnis…

Mungkin pertanyaan yang paling penting bukan:

“Apakah ini terdengar pintar?”

Tapi:

“Apakah ini benar-benar membantu orang memahami sesuatu yang penting bagi mereka?”

Karena kalau jawabannya iya…

Biasanya kata-kata itu akan menemukan jalannya sendiri.

Dan seperti biasa… saya sendiri juga masih belajar mempraktikkan semua ini.

Masih belajar menulis lebih jelas.

Masih belajar memahami orang lebih dalam.

Masih belajar berbicara dengan empati.

Tapi mungkin itu juga bagian dari perjalanan sebagai Parentpreneur.

Belajar sedikit demi sedikit.

Memperbaiki cara berpikir.

Memperbaiki cara berkomunikasi.

Dan semoga… pelan-pelan membangun sesuatu yang benar-benar berarti.

Untuk bisnis.

Untuk keluarga.

Dan untuk kehidupan yang sedang kita jalani sekarang.

Parentpreneur.id
Parentpreneur.id

Kami adalah suami-istri di balik Parentpreneur Indonesia membangun komunitas untuk PARENT upgrade mindset, income, parenting, AI & digital skills bersama bersama tanpa mengorbankan keluarga Di sini kita share cerita nyata, sistem yang kita pakai sendiri, dan pelajaran yang gagal maupun yang berhasil yang kita dapatkan di tengah perjalanan sebagai PARENTPRENEUR dengan dua anak kecil. Dengan satu tujuan kita: Build Family. Build Wealth. Build Legacy.

Lihat semua artikel oleh Parentpreneur.id →