Book

Kenapa Orang Biasa Bisa Jadi Pemenang? (Pelajaran dari Buku Winners)

Parentpreneur.id · December 5, 2025 · 9 min read
Share:

Pernah nggak kamu perhatikan satu hal yang agak aneh tentang orang yang akhirnya jadi “pemenang” dalam hidup ini?

Kadang mereka bukan yang paling pintar.
Bukan juga yang paling berbakat.

Kalau kita lihat hidup mereka dari luar… bahkan sering kali perjalanan mereka penuh kegagalan.

Tapi entah kenapa, di titik tertentu, mereka tetap menang dan berhasil sampai ke puncak.

Ada yang jadi pemimpin negara.
Ada yang jadi atlet terbaik dunia.
Ada yang membangun perusahaan besar dari nol.

Pertanyaannya sederhana… tapi dalam sekali.

Apa sih sebenarnya yang membedakan mereka?

Apa yang sebenarnya membuat seseorang bisa menjadi “winner”?

Saya pertama kali menemukan cara berpikir yang menarik tentang hal ini dari sebuah buku berjudul “Winners” karya Alastair Campbell.

Buku ini tidak mencoba memberikan formula atau cara instan.

Tetapi, buku ini melihat banyak kisah orang yang berhasil, dari dunia politik, olahraga, bisnis. Di buku ini kita bisa menemukan pola yang sama.

Dan yang menarik…

Ternyata kemenangan itu jarang sekali datang dari satu hal saja.

Biasanya ada beberapa elemen yang bekerja bersama.

Dan semakin saya memikirkan ide-ide ini… semakin saya merasa banyak sekali yang relevan dengan kehidupan kita sebagai PARENT.

Terutama kalau kita sedang mencoba membangun sesuatu.

Bisnis.

Karier.

Atau bahkan kehidupan keluarga yang lebih baik.


Hal pertama yang dibahas dalam buku ini sebenarnya cukup sederhana.

Tapi sering kali kita diabaikan.

Kalau kamu ingin menang dalam sesuatu…

kamu harus punya strategi yang jelas.

Bukan cuma harapan.

Bukan cuma semangat.

Tapi strategi.

Strategi itu sebenarnya sederhana.

Strategi adalah jawaban dari pertanyaan:
“Bagaimana caranya saya sampai ke tujuan ini?”

Banyak orang punya mimpi.

Tapi tidak semua orang punya strategi.

Dan tanpa strategi… kita biasanya hanya bereaksi terhadap keadaan.

Bukan mengarahkan keadaan.

Ada satu kutipan dari Garry Kasparov, mantan juara dunia catur, yang menurut saya sangat menarik.

Dia mengatakan…

Kalau kamu tidak punya strategi, kamu akan terus bereaksi terhadap langkah lawan.

Dan kalau kamu hanya bereaksi…

berarti lawan yang mengontrol permainan.

Kalau kita pikirkan sebentar… ini bukan cuma berlaku di papan catur.

Ini juga berlaku di hidup ini.

Banyak orang menjalani hidup seperti sedang bereaksi terus menerus.

Kerja… karena harus kerja.

Lembur… karena kantor minta.

Ambil proyek… karena takut kehilangan peluang.

Tanpa pernah berhenti sejenak dan bertanya:

“Sebenarnya tujuan saya apa?”

Sebagai PARENT, ini pertanyaan yang sangat penting.

Karena kalau tujuan kita hanya “kerja lebih keras”… kita bisa saja mendapatkan uang.

Tapi kehilangan waktu dengan anak ataupun keluarga.

Sebaliknya…

kalau tujuan kita jelas, misalnya:

Saya ingin membangun income yang cukup…
tapi tetap hadir untuk keluarga.

Baru kita bisa mulai membangun strategi yang berbeda.

Strategi kerja yang berbeda.

Strategi bisnis yang berbeda.

Strategi hidup yang berbeda.

Dan satu hal penting yang juga ditekankan dalam buku ini…

Tujuan juga harus realistis.

Bukan berarti kecil.

Tapi realistis.

Ada cerita tentang klub sepak bola Inggris Crystal Palace.

Beberapa tahun lalu, klub ini hampir terdegradasi dari Premier League.

Lalu datang pelatih baru bernama Tony Pulis.

Kalau dia datang dengan tujuan:

“Kita harus langsung jadi juara liga.”

Itu mungkin terdengar inspiratif.

Tapi tidak realistis.

Sebaliknya…

tujuannya sederhana:

Kita harus bertahan di liga ini dulu.

Dan karena tujuannya realistis… strategi yang dibangun juga masuk akal.

Dan akhirnya mereka berhasil.

Kadang dalam hidup… kemenangan besar dimulai dari tujuan yang sederhana tapi jelas.


Hal kedua yang dibahas buku ini adalah tentang leadership.

Menariknya…

penulis mengatakan sesuatu yang mungkin agak mengejutkan.

Tidak ada satu sifat yang dimiliki semua pemimpin besar.

Tidak ada “formula pasti dari karakter pemimpin”.

Setiap pemimpin punya gaya yang berbeda.

Misalnya Angela Merkel, mantan kanselir Jerman.

Dia dikenal bukan karena pidato yang dramatis.

Bukan juga karena gesture yang besar.

Tapi karena satu hal:

Pragmatis.

Dia sangat tenang dalam melihat situasi.

Tidak terburu-buru.

Dan selalu fokus pada strategi jangka panjang.

Di sisi lain…

kita pernah dengar cerita tokoh seperti Winston Churchill.

Perjalanannya bahkan penuh dengan banyak kegagalan.

Dia kalah dalam pemilu.

Mengambil keputusan ekonomi yang buruk.

Karier politiknya naik turun.

Kalau kita melihat rekam jejaknya sebelum Perang Dunia II…

mungkin kita tidak akan menyebut dia “winner”.

Tapi ada satu hal yang dia lihat lebih awal dari orang lain.

Bahwa Nazi Jerman adalah ancaman besar.

Dan dia fokus luar biasa pada hal itu.

Ketika perang akhirnya terjadi…

visi dan keteguhannya membuat banyak orang Inggris percaya padanya.

Dan akhirnya dia dikenang sebagai salah satu pemimpin terbesar dalam sejarah.

Hal yang saya pelajari dari cerita ini sederhana.

Kadang kemenangan bukan tentang tidak pernah gagal.

Kadang kemenangan datang dari tetap berjalan walaupun perjalanan sebelumnya berantakan.

Ini juga sangat relevan dalam perjalanan membangun sesuatu.

Bisnis.

Karier.

Atau bahkan menjadi PARENT yang lebih baik.

Kita semua pasti pernah membuat keputusan yang salah.

Saya juga.

Tapi yang menentukan bukan masa lalu kita.

Yang menentukan adalah apakah kita tetap bergerak maju atau tidak.


Hal ketiga yang dibahas buku ini adalah sesuatu yang sering dilupakan orang yang ingin sukses.

Tidak ada orang yang menang sendirian.

Pemenang selalu punya tim.

Dan bukan sekadar tim…

tapi tim yang saling melengkapi.

Bayangkan sebuah tim sepak bola yang isinya 11 penyerang.

Semua orang hebat menyerang.

Tapi tidak ada yang bisa bertahan.

Kemungkinan besar tim itu tidak akan menang.

Dalam tim yang baik…

Terdiri dari orang-orang punya kekuatan yang berbeda.

Ada yang visioner.

Ada yang detail.

Ada yang strategis.

Ada yang eksekutor.

Bahkan dalam tim sepeda profesional…

yang kita lihat di TV mungkin hanya satu atlet yang menang.

Tapi di belakangnya ada mekanik.

Terapis olahraga.

Strategist di mobil tim.

Support system yang besar.

Dalam buku ini juga disebutkan ada beberapa peran penting dalam tim.

Ada leader.

Ada warriors.

Dan ada talent.

Leader menentukan arah.

Warriors menjalankan mesin setiap hari.

Dan talent adalah orang-orang yang benar-benar punya kemampuan luar biasa.

Dalam kehidupan nyata… sering kali kita hanya melihat “talent”.

Padahal yang membuat sistem berjalan adalah para warriors.

Orang-orang yang bekerja di belakang layar.

Ini juga mengingatkan saya bahwa dalam kehidupan keluarga pun sebenarnya kita juga membangun tim.

Suami.

Istri.

Kadang orang tua.

Kadang teman.

Kadang komunitas.

Tidak semua harus kita lakukan sendiri.


Hal berikutnya yang menurut saya sangat menarik dari buku ini adalah tentang mindset seorang pemenang.

Banyak orang mengatakan:

“Winners just really want to win.”

Tapi penulis buku ini mengatakan sesuatu yang sedikit berbeda.

Banyak pemenang bukan hanya ingin menang…

tapi mereka sangat tidak ingin kalah.

Ada perbedaan psikologis di situ.

Contohnya Michael Phelps.

Atlet renang Olimpiade dengan medali emas terbanyak dalam sejarah.

Sebelum semua kemenangan itu…

dia pernah mengalami kegagalan besar.

Di Olimpiade Sydney tahun 2000…

dia tidak memenangkan satu pun lomba.

Dan rasa sakit dari kekalahan itu…

menjadi bahan bakar yang luar biasa kuat.

Dia berlatih lebih keras dari sebelumnya.

Dan setelah itu…

dia hampir tidak pernah kalah lagi.

Kadang dalam hidup… kegagalan justru menjadi motivasi yang lebih kuat daripada kemenangan.


Hal lain yang juga sangat penting…

adalah kemampuan untuk keluar dari comfort zone.

Ini menarik karena banyak orang yang sebenarnya berhenti berkembang justru setelah mereka sukses.

Contohnya lagi Garry Kasparov.

Setelah memenangkan banyak turnamen catur…

dia mulai merasa sangat nyaman.

Dia tidak lagi mencoba strategi baru.

Tidak lagi mengambil risiko.

Permainannya menjadi stagnan.

Dan akhirnya…

dia dikalahkan oleh pemain catur lain bernama Vladimir Kramnik.

Kadang kemenangan terbesar kita di masa lalu…

justru bisa menjadi jebakan.

Karena kita berhenti bereksperimen.

Berhenti belajar.

Berhenti mengambil risiko.

Ini juga sesuatu yang sering saya pikirkan sebagai PARENT.

Dunia berubah sangat cepat.

Teknologi berubah.

Cara bekerja berubah.

Bahkan cara membangun bisnis berubah.

Kalau kita terlalu nyaman dengan cara lama…

kita bisa tertinggal.


Hal berikutnya yang menurut saya sangat relevan adalah tentang boldness.

Keberanian untuk bertindak.

Dalam buku ini ada contoh Richard Branson.

Pendiri Virgin Group.

Dia memulai bisnis pertamanya ketika berusia 17 tahun.

Sebuah majalah untuk pelajar.

Padahal dia disleksia.

Membaca dan menulis bukan kekuatannya.

Lalu dia masuk ke bisnis musik.

Padahal dia tidak punya pengalaman di industri itu.

Kemudian dia mendirikan maskapai penerbangan.

Padahal dia juga tidak punya pengalaman di industri penerbangan.

Semua ini terdengar agak gila kalau dipikirkan.

Tapi ada satu pola yang sama.

Dia bertindak meskipun belum ahli.

Dan sering kali…

banyak inovasi besar datang dari orang yang berani mencoba sesuatu yang belum mereka kuasai sepenuhnya.

Apple juga contoh yang menarik.

Mereka tidak menemukan telepon.

Telepon sudah ada.

Tapi mereka membuatnya jauh lebih baik.

Inovasi sering kali bukan tentang menciptakan sesuatu dari nol.

Tapi tentang memperbaiki sesuatu yang sudah ada.


Hal terakhir yang menurut saya sangat penting dalam buku ini adalah tentang krisis.

Krisis adalah bagian dari kehidupan.

Baik dalam bisnis.

Dalam pekerjaan.

Atau bahkan dalam keluarga.

Yang membedakan orang yang akhirnya berhasil sering kali bukan apakah mereka mengalami krisis atau tidak.

Tapi bagaimana mereka merespon krisis tersebut.

Ada cerita tentang Presiden Amerika Serikat Bill Clinton.

Ketika skandal Monica Lewinsky muncul…

media seluruh dunia membicarakannya.

Situasinya sangat kacau.

Tapi pada saat laporan tentang skandal itu akan dirilis…

Clinton tetap melakukan pekerjaannya.

Dia sedang berbicara dengan Perdana Menteri Inggris tentang isu nuklir Rusia.

Dia tahu dia tidak bisa mengontrol bagaimana media bereaksi.

Dia tidak bisa mengontrol bagaimana orang lain menilai dirinya.

Tapi dia bisa mengontrol satu hal:

fokus pada pekerjaannya.

Kadang dalam krisis…

hal paling penting adalah kembali pada apa yang benar-benar bisa kita kendalikan.


Kalau saya merangkum semua ide dari buku ini…

saya merasa satu hal yang sangat jelas.

Tidak ada satu tipe orang yang selalu menang.

Winners datang dari berbagai latar belakang.

Berbagai karakter.

Berbagai perjalanan hidup.

Tapi ada beberapa pola yang sering muncul.

Mereka punya strategi.

Mereka membangun tim.

Mereka berani keluar dari zona nyaman.

Mereka terus berinovasi.

Dan ketika krisis datang…

mereka tetap fokus pada hal yang penting.

Kalau saya refleksikan ke kehidupan saya sendiri sebagai PARENT…

saya merasa perjalanan ini juga masih panjang.

Masih banyak hal yang saya pelajari.

Masih banyak strategi yang perlu diperbaiki.

Masih banyak zona nyaman yang perlu ditinggalkan.

Tapi mungkin itulah sebenarnya perjalanan menjadi “winner”.

Bukan tentang selalu menang.

Tapi tentang terus bertumbuh.

Step by step.

Hari demi hari.

Dan yang paling penting…

tidak kehilangan hal yang paling berharga di perjalanan itu.

Keluarga.

Karena pada akhirnya…

menjadi winner di dunia…

tidak terlalu berarti kalau kita gagal menjadi winner di rumah.

Dan saya sendiri juga masih belajar menjalani perjalanan itu.

Parentpreneur.id
Parentpreneur.id

Kami adalah suami-istri di balik Parentpreneur Indonesia membangun komunitas untuk PARENT upgrade mindset, income, parenting, AI & digital skills bersama bersama tanpa mengorbankan keluarga Di sini kita share cerita nyata, sistem yang kita pakai sendiri, dan pelajaran yang gagal maupun yang berhasil yang kita dapatkan di tengah perjalanan sebagai PARENTPRENEUR dengan dua anak kecil. Dengan satu tujuan kita: Build Family. Build Wealth. Build Legacy.

Lihat semua artikel oleh Parentpreneur.id →